BERBICARA PERJUANGAN GENERASI MUDA
Penulis : Andy Ilman Hakim
Mahasiswa Ilmu Politik
Universitas Brawijaya
"aku merasa larut terlalu dalam sejak awal, hingga ku tahu alur perjalanannya..
Hanya bisa diam, sesekali merenung"
Banyak
dari mereka bersuara lantang, tapi ia tak sadar dengan kekosongannya.
Banyak dari mereka berbicara citra hanya sekedar perantara buah bibir
orang-orang. Kebenaran adalah kebenaran, bukan lagi otoritas dan
keberpihakan belaka. Kenyataan adalah benar adanya,bukan kesemuan yang
ada. Mereka hanya berbicara berlarut-larut. Hanya sepatah dua kata yg
bersindiran. Berbicara orang-orang yang tak berdosa,dan menjadi dosa
karena ketidaktahuannya. Yang tampak seperti lintah-lintah darat yang
seolah-olah haus akan kedudukan kekuasaan. Dan sebenarnya, ada yang
mengendalikan kita. Mengendalikan ketidaktahuan kita. Di balik layar itu
!
Aku tahu dan memahaminya. Kita hanyalah korban tangan-tangan
berkepentingan pribadi yang sebenarnya. Kita, korban yang terselamatkan
dan kini menentang diam-diam. Jangan tengok permukaan, telaahlah lebih
dalam,jauh lebih dalam. Disanalah tempat mereka mempermainkan
kita.Mengadudombakan kita, atas nama diri kita sendiri.
Ironis
sekali melihat kenyataan di depan mata. Generasi muda yang seharusnya
dipersiapkan untuk mengisi kekosongan bangsa,kini harus menelan pil
pahit dari budaya yang dibentuk sejarah. Berawal dari diskusi bertemakan
politik kampus, ternyata tak ada bedanya berbicara kehidupan politik
bangsa saat ini. Pikiran terbentuk atas pandangan dan pendengaran alam
sadar kita,dan perlahan akan masuk ke dalam alam bawah sadar kita.
Kita berada dalam satu perjuangan,dalam satu wadah. Hanya saja,jalur perjuangan kita berbeda.
Mereka yang aksi dan harus memperjuangkan nasib rakyat indonesia,itulah cara mereka.
Mereka yang fokus memperdalam pendidikan dan berjuang melawan kebodohan bangsa,itulah cara mereka.
Mereka yang menulis dan menggoreskan tinta dalam kertas datar dengan harapan perubahan bangsa lebih indah,itulah cara mereka.
Dan semua, satu tujuan, untuk kebaikan,untuk kesejahteraan bangsa.
Lantas
mengapa kita harus mempertentangkan perbedaan, dengan dalih adanya
kepentingan. Bukankah Mahatma Gandhi berkata bahwa setiap orang memiliki
kepentingan. Dan kita semua sadar akan itu. Hanya saja yang membedakan
adalah dimana sifat kepentingan tersebut,dan termasuk ke dalam
klasifikasi apa.
Jangan memandang kepentingan sebagai peluru tajam
yang akan menghunus dadamu. Karena tak semua kepentingan seseorang,akan
memindahkanmu dalam tataran sosial terendah. Kita makan adalah
kepentingan,memperoleh pendidikan adalah kepentingan,mendapat jabatan
juga kepentingan. Dan yang membedakan adalah bagaimana cara yang digunakan
untuk mencapainya dan menjalankannya.
Dekatilah dan lihat
perlahan,duduklah dengan kebenaran dan terjunlah langsung ke dalam. Baru
kau berhak menilai. Jangan pukul rata semua kepentingan,karna
men-generalisir-suatu hal akan merugikan kita sendiri,merugikan saudara
dan bangsa kita sendiri. Tidak akan ada perubahan, jika satu sama lain
akan saling menjatuhkan hanya karena egoisitas kita terhadap suatu hal
yang tak pasti tidak bisa terkendali. Hingga kesan yang timbul adalah saling
menjatuhkan harga diri secara masal. Yang nantinya akan mencapai puncak
klimaks yaitu jika mengambil kutipan Zainuddin Maliki dalam bukunya yg
berjudul Politikus Busuk, kita tengah dilanda krisis kepercayaan atau
disebut dengan masyarakat Zero Trust.
Jika generasi muda sudah mulai tertular hal itu,bagaimana nasib bangsa dan dimana letak makna perjuangan untuk bersatu?
Biarkanlah
mereka yang mempertentangkan sesama bangsa sendiri bertindak atas ego
politik mereka. Jika memang seperti ini keadaannya. Berharap waktu
perlahan mengikis ego itu, dan menyadarkannya bahwa berbeda dalam
persatuan itu akan lebih indah dengan penghormatan sesama.
Kalian
yg berjuang,berjuanglah bersama kita,kita yg benar-benar berjuang,dan
melepas sejenak ego pribadi. Berhentilah membeda-bedakan,karna memang
kenyataannya kita sudah berbeda. Namun bukan berarti berbeda tidak dapat
bersatu.
Para leluhur kemerdekaan kita,Bung Karno,Bung Hatta,Bung
Sjahrir,Jenderal Sudirman,dan tokoh perjuangan masa lalu,bukankah hidup
dalam perbedaan? Dan mereka mampu memerdekakan bangsa dari tangan
penjajah dengan semangat persatuan bangsa. Hingga tercetuskanlah Bhineka
Tunggal Ika.
Berbeda-beda tetapi tetap satu jua !
"Disini.. duduklah di sampingku,jangan pernah beranjak.
Tetaplah bersamaku menengok kenyataan di depan mata kita, dan kau akan tau yang sebenarnya"..
(terinspirasi dari keadaan politik kampus yg menghawatirkan penulis terhadap keadaan bangsa ke depan)
22 Juli 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar