Sabtu, 15 September 2012

BERBICARA PERJUANGAN GENERASI MUDA
Penulis : Andy Ilman Hakim
Mahasiswa Ilmu Politik
Universitas Brawijaya


"aku merasa larut terlalu dalam sejak awal, hingga ku tahu alur perjalanannya..
Hanya bisa diam, sesekali merenung"

Banyak dari mereka bersuara lantang, tapi ia tak sadar dengan kekosongannya. Banyak dari mereka berbicara citra hanya sekedar perantara buah bibir orang-orang. Kebenaran adalah kebenaran, bukan lagi otoritas dan keberpihakan belaka. Kenyataan adalah benar adanya,bukan kesemuan yang ada. Mereka hanya berbicara berlarut-larut. Hanya sepatah dua kata yg bersindiran. Berbicara orang-orang yang tak berdosa,dan menjadi dosa karena ketidaktahuannya. Yang tampak seperti lintah-lintah darat yang seolah-olah haus akan kedudukan kekuasaan. Dan sebenarnya, ada yang mengendalikan kita. Mengendalikan ketidaktahuan kita. Di balik layar itu !
Aku tahu dan memahaminya. Kita hanyalah korban tangan-tangan berkepentingan pribadi yang sebenarnya. Kita, korban yang terselamatkan dan kini menentang diam-diam. Jangan tengok permukaan, telaahlah lebih dalam,jauh lebih dalam. Disanalah tempat mereka mempermainkan kita.Mengadudombakan kita, atas nama diri kita sendiri.
Ironis sekali melihat kenyataan di depan mata. Generasi muda yang seharusnya dipersiapkan untuk mengisi kekosongan bangsa,kini harus menelan pil pahit dari budaya yang dibentuk sejarah. Berawal dari diskusi bertemakan politik kampus, ternyata tak ada bedanya berbicara kehidupan politik bangsa saat ini. Pikiran terbentuk atas pandangan dan pendengaran alam sadar kita,dan perlahan akan masuk ke dalam alam bawah sadar kita.
Kita berada dalam satu perjuangan,dalam satu wadah. Hanya saja,jalur perjuangan kita berbeda.
Mereka yang aksi dan harus memperjuangkan nasib rakyat indonesia,itulah cara mereka.
Mereka yang fokus memperdalam pendidikan dan berjuang melawan kebodohan bangsa,itulah cara mereka.
Mereka yang menulis dan menggoreskan tinta dalam kertas datar dengan harapan perubahan bangsa lebih indah,itulah cara mereka.
Dan semua, satu tujuan, untuk kebaikan,untuk kesejahteraan bangsa.
Lantas mengapa kita harus mempertentangkan perbedaan, dengan dalih adanya kepentingan. Bukankah Mahatma Gandhi berkata bahwa setiap orang memiliki kepentingan. Dan kita semua sadar akan itu. Hanya saja yang membedakan adalah dimana sifat kepentingan tersebut,dan termasuk ke dalam klasifikasi apa.
Jangan memandang kepentingan sebagai peluru tajam yang akan menghunus dadamu. Karena tak semua kepentingan seseorang,akan memindahkanmu dalam tataran sosial terendah. Kita makan adalah kepentingan,memperoleh pendidikan adalah kepentingan,mendapat jabatan juga kepentingan. Dan yang membedakan adalah bagaimana cara yang digunakan untuk mencapainya dan menjalankannya.
Dekatilah dan lihat perlahan,duduklah dengan kebenaran dan terjunlah langsung ke dalam. Baru kau berhak menilai. Jangan pukul rata semua kepentingan,karna men-generalisir-suatu hal akan merugikan kita sendiri,merugikan saudara dan bangsa kita sendiri. Tidak akan ada perubahan, jika satu sama lain akan saling menjatuhkan hanya karena egoisitas kita terhadap suatu hal yang tak pasti tidak bisa terkendali. Hingga kesan yang timbul adalah saling menjatuhkan harga diri secara masal. Yang nantinya akan mencapai puncak klimaks yaitu jika mengambil kutipan Zainuddin Maliki dalam bukunya yg berjudul Politikus Busuk, kita tengah dilanda krisis kepercayaan atau disebut dengan masyarakat Zero Trust.
Jika generasi muda sudah mulai tertular hal itu,bagaimana nasib bangsa dan dimana letak makna perjuangan untuk bersatu?
Biarkanlah mereka yang mempertentangkan sesama bangsa sendiri bertindak atas ego politik mereka. Jika memang seperti ini keadaannya. Berharap waktu perlahan mengikis ego itu, dan menyadarkannya bahwa berbeda dalam persatuan itu akan lebih indah dengan penghormatan sesama.
Kalian yg berjuang,berjuanglah bersama kita,kita yg benar-benar berjuang,dan melepas sejenak ego pribadi. Berhentilah membeda-bedakan,karna memang kenyataannya kita sudah berbeda. Namun bukan berarti berbeda tidak dapat bersatu.
Para leluhur kemerdekaan kita,Bung Karno,Bung Hatta,Bung Sjahrir,Jenderal Sudirman,dan tokoh perjuangan masa lalu,bukankah hidup dalam perbedaan? Dan mereka mampu memerdekakan bangsa dari tangan penjajah dengan semangat persatuan bangsa. Hingga tercetuskanlah Bhineka Tunggal Ika.
Berbeda-beda tetapi tetap satu jua !
"Disini.. duduklah di sampingku,jangan pernah beranjak.
Tetaplah bersamaku menengok kenyataan di depan mata kita, dan kau akan tau yang sebenarnya"..
(terinspirasi dari keadaan politik kampus yg menghawatirkan penulis terhadap keadaan bangsa ke depan)

22 Juli 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar